loading…

SORONG porakporanda Penyidik Balai Gakkum KLHK Provinsi Maluku Papua menangkap Felix Wiliyanto (56), bos PT Bangun Membuat Mandiri (BCM) terkait dugaan urusan illegal logging di perairan Wilayah Kalwal, Distrik Salawati Barat, Kabupaten Raja Ampat.

Felix Wiliyanto ditangkap pada 16 Juli 2020 di Jakarta. Penangkapan ini dikerjakan setelah Felix Wiliyanto dua kala mengabaikan surat panggilan penyidik. Felix Wiliyanto telah dibawa ke Sorong pada 17 Juli 2020 untuk diserahkan kepada Jaksa Penuntut Umum/Tahap II.

Mengucapkan Juga:

(Baca juga: https://daerah.sindonews.com/read/106398/174/polda-riau-bongkar-penyulingan-minyak-ilegal-milik-pt-chevron-1595178429)

Terkait dengan kasus illegal logging ini, dua tersangka lain dalam kasus yang sama yakni Sudirman dan H Nudin sudah menjalani persidangan. Dalam putusan meja hijau Negeri Sorong kedua terdakwa diputus bebas oleh hakim pengadilan jati setempat.

Kepala Balai Gakkum KLHK Wilayah Papua, Leonardo Gultom kepada Okezone mencuaikan sambungan telepon seluler mengatakan kalau, Boss PT. Bangun Cipta Sendiri itu ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik pada tanggal 31 Maret 2020.

FW akan dikenakan pasal sangkaan berniat mengangkut, menguasai, atau memiliki buatan hutan kayu yang tidak dilengkapi secara bersama surat keterangan sahnya hasil hutan” seperti tercantum di Pasal 83 Ayat 1 Huruf b Jo. Pasal 12 Tulisan e Undang-Undang No 18 Tarikh 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan, Jo. Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP.

FW diancam dengan hukuman pidana penjara paling lama 5 tahun dan pidana dendan menyesatkan banyak Rp 2, 5 miliar, ” ujar Leonardo Gultom.

(Baca juga: BNPB Beri Dana Siap Pakai Rp1 Miliar untuk Penanganan Banjir Lutra)

Leonardo menambahkan, terungkapnya kasus illegal logging ini berasal dari kegiatan Operasi Pengamanan serta Peredaran Hasil hutan Tim Operasi Balai Gakkum KLHK Maluku Papua.

“Tim berdiam awal Februari 2020 menahan Pesawat KLM Sumber Harapan III dengan bermuatan kayu olahan jenis merbau (Intsia bijuga) berbagai ukuran, kurang lebih 100 m3 di Daerah Kalwal, Distrik Salawati Barat, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat”ungkapnya.

Dirjen Penegakan Patokan KLHK, Rasio Ridho Sani, mengisbatkan penangkapan FW membuktikan KLHK tidak berhenti menindak pelaku kejahatan terpaut dengan hutan seperti illegal logging, perambahan kawasan hutan untuk perkebunan illegal maupun tambang illegal, serta pelaku kejahatan dan perusakan dunia hidup lainnya.

“Di tengah pandemi COVID-19, awak kami terus bekerja menindak karakter kejahatan untuk menyelamatkan sumberdaya negeri kita, ” tegas Rasio.

“Kami harapkan para pelaku kejahatan seperti ini harus dihukum seberat-beratnya. Pelaku kejahatan serupa FW ini mencari keuntungan diatas penderitaan masyarakat banyak. Kalau hutan dan lingkungan hidup kita rusak maka kehidupan masyarakat terancam bala, banyak yang jadi korban telah banyak contohnya. Kejahatan FW ini juga merugikan negara karena negara kehilangan pendapatan dari sumberdaya dunia. Jadi sudah sepantasnya FW maupun pelaku kejahatan lingkungan hidup & kehutanan lainnya dihukum seberatnya biar ada efek jera, ” tambahan Rasio.

Sementara tersebut, Felix Wiliyanto yang dikonfirmasi membuktikan dirinya akan mengajukan praperadilan terpaut penangkapan dirinya di Jakarta belum lama ini. Felix juga menyesalkan dasar penangkapan dirinya oleh aparat Gakum yang dianggap tidak sesuai prosedur alias tanpa dasar.

“Saya ini ditahan dasarnya apa, sedangkan haji (Haji Nudin) sudah dibebaskan. Saya sekarang ada dititip di sel Polsek Sorong Timur. Jadi nanti rencananya Senin besok, saya bersama pengacara saya akan melakukan praperadilan atas interpretasi kasus ini. Sabar saja, aku akan bongkar semuanya. Saya salahnya dimana”ungkap Felix Wiliyanto dengan nada kesal.

Taat Felix, proses hukum terhadap dirinya terlihat sangat dipaksakan dan sangat merugikan dirinya. “Saya ini salahnya dimana, saya akan praperadilan semua, biar semua ditangkap juga. Dorang ( mereka) ini kan paksakan yang tidak benar punya tersebut kan. Saya mau tanya, saat ini tangkap saya, lalu haji itu pelaku utama itu bebas, lalu saya salahnya apa. Saya cuma memberikan modal kepada haji. Tersebut kayu yang dibeli haji tersebut kan legal, punya ijin, makanya haji bebas. Kenapa saya dengan ditahan. Nanti saya akan tinju dia, pencemaran sekaligus saya tuntut dia, ” ungkap Felix.

Menurut Felix Wiliyanto, terkait pemberitaan media, dirinya berharap tersedia keseimbangan dalam pemberitaan kasus itu. Dimana menurutnya, kayu-kayu yang diambilnya itu bukan ditebang olehnya melainkan kayu-kayu yang sudah ditebang oleh masyarakat dan dijual oleh itu kepada perusahaan Felix.

“Saya harap pemberitan jalan harus seimbang, dan kalau itu mereka mau bilang saya penjahat lingkungan, baru saya itu bukan penebangan kayu, kayu itu halal dari masyarakat, mereka jual ke saya, lalu pidananya dimana, “ujarnya.

Hingga masa ini, Felix Wiliyanto masih ditahan di Polsek Sorong Timur sebagai tahanan titipan Gakum KLHK Maluku Papua untuk selanjutnya dilakukan konvensi di Pengadilan Negeri Sorong.

(msd)