JAKARTA – Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan, Indonesia memerlukan tambahan pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) sekitar 14-15 Gigawatt (GW) untuk mencapai target adukan EBT sebesar 23% pada tahun 2025.

Menurut dia, ini membutuhkan investasi sekitar USD5-6 miliar per tahun. “Artinya, kalau 15 GW yang diperlukan maka setiap tahun membutuhkan tambahan 2-3 GW kapasitas pembangkit baru, ” ujarnya dalam jumpa pers virtual IETD 2020, Senin (30/11/2020).

Menurut dia, meski wacana transisi gaya juga semakin populer dalam dua tahun terakhir, namun wacana ini belum berubah menjadi urgensi & prioritas dalam strategi dan rencana pembangunan energi di Tanah Tirta.

( Baca juga: Cek, Inilah 15 Proyek Strategis Nasional Sektor Gaya yang Diteken Jokowi )

Baca Juga:

Berdasarkan Indonesia Clean Energy Outlook (ICEO) yang dikeluarkan IESR tahun lalu, kapasitas terpasang energi terbarukan hingga akhir tahun 2019 hanya mencapai sedikit di untuk 10 GW dengan bauran energi terbarukan di pembangkitan listrik bertukar di angka 12, 2%.

Rata-rata penambahan kapasitas energi terbarukan hanya 400 MW bohlam tahun, hanya seperdelapan dari yang seharusnya dibangun untuk mencapai target Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).

( Baca juga: Pak Luhut! Ekspor Benih Lobster Sebaiknya Distop )

Investasi energi terbarukan menemui stagnansi dan semua target gaya terbarukan, baik dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) ataupun RUEN untuk tahun 2019, pula tidak tercapai.

“Kalau ingin mencapai status dekarbonisasi atau alignment dengan Paris Agreement dengan sudah diratifikasi, maka sebenarnya di dalam 2050 kita perlu tingkatkan pendirian energi terbarukan hingga mencapai 70%, ” paparnya.