Seorang petani mengganjar seekor kelinci kepada Nashruddin. Nashruddin lalu memberikan penghormatan dan menjamu petani itu dengan jamuan memuaskan hingga pulang. ( Membaca juga : Canda Ala Sufi: Paku, Abu, dan Pencuri Mempertanggungkan Nashruddin )

Selang utama minggu, datanglah kepada Nashruddin seorang yang tidak dikenalnya. Karena tersebut, dia bertanya padanya, “Siapakah tuan? ”

Orang itu menjawab, “Aku adalah karakter yang menghadiahkan kelinci kepadamu seminggu yang lalu. ”

Nashruddin pun menghormati dan menjamunya.

Beberapa keadaan kemudian, datanglah empat orang petani. Nashruddin bertanya pada mereka “Siapakah kalian? ” ( Menyuarakan juga : Canda Ala Sufi: Membacakan Talqin, Lilin dan Benara Al-Tis )

Baca Serupa:

Mereka membalas, “Kami adalah tetangga pemilik kelinci itu. ” Maka Nashruddin biar menghormati dan menjamu
mereka.

Satu minggu berikutnya datanglah beberapa orang petani dengan jumlahnya lebih banyak. Lalu Nashruddin bertanya pada mereka, “Siapakah kalian ini? ”

Mereka menjawab, “Kami adalah tetangga dari tetangga pemilik kelinci tersebut. ”

Nashruddin lalu bangun dan mengambil air putih sambil berceloteh, “Silakan kalian minum. ”

Baca juga : Canda Ala Sufi: Kue Harisah, Keledai, dan Hammad

Mereka heran dan berceloteh pada Nashruddin, “Kok hanya tersebut saja? ”

Nashruddin menjawab, “Wahai tetangga lantaran tetangga permilik kelinci, ini ialah kuah kelinci itu. ”

===

Dinukil dari karya Nashruddin secara judul asli Nawadhir Juha al-Kubra dan diterjemahkan oleh Muhdor Assegaf secara judul ” Canda Ala Ahlusuluk Nashruddin ”