JAKARTA – Kementerian Pendidikan serta Kebudayaan (Kemendikbud) mengklaim sudah mendistribusikan Bantuan kuota internet untuk kurun kedua tahap pertama oktober. Namun, banyak guru dan siswa dibanding sekolah yang mengadu belum menyambut bantuan kuota internet. Sekolah itu tersebar di 19 provinsi, jarang lain, Aceh, Kepulauan Riau, Riau, Sumatera Selatan, DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.

Pemimpin Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru (P2G) Satriwan Salim mengatakan, sandaran kuota internet untuk periode pertama itu seharusnya diberikan pada September lalu. Bahkan, siswa dan pengasuh di Jakarta juga ada yang belum menerima. Padahal secara infrastruktur sangat memadai. (Baca juga: Pelajar Indonesia Raih 9 Medali di Kompetisi Astronomi-Astrofisika Dunia)

“Padahal kiai dan orang tua siswa betul mengharapkan bantuan ini. Bantuan catu internet ini akan mengurangi tanggung selama pembelajaran jarak jauh (PJJ) berlangsung, ” ujarnya dalam data tertulis yang diterima SINDOnews, Senin (26/10/2020).

Saat tersebut, Kemendikbud telah mulai menyalurkan bantuan kuota tahap dua yang dilaksanakan pada 22-24 Oktober lalu. P2G menilai Kemendikbud tidak serius dalam melaksanakan program yang memakan uang jumbo sebesar Rp7, 2 triliun untuk empat bulan hingga Desember 2020.

Baca Juga:

Satriwan menjelaskan P2G telah melaporkan permasalahan ini ke Kemendikbud pada akhir September lalu. Sekarang, menurutnya, malah terjadi penggandaan provinsi dan jumlah peserta yang belum menerima bantuan subsidi kuota internet. (Baca serupa: Maksimalkan Kuota Data, Kemendikbud Diminta Evaluasi Masa Pakai Kuota)

“Artinya, Kemdikbud tak serius dalam menindaklanjuti temuan-temuan keluhan bantuan kuota bulan September awut-awutan. Padahal mendapatkan bantuan kuota tersebut merupakan hak dasar siswa & guru agar pembelajaran PJJ khususnya daring tetap terlaksana, ” kasar lulusan Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Sekretaris P2G mengucapkan Kemendikbud untuk memperhatikan nasib para-para guru yang tetap bersemangat menunjuki, meskipun bantuan kuota internet belum diterima. P2G menyatakan banyak karakter tua yang mendatangi guru atau wali kelas untuk menanyakan & menuntut kejelasan bantuan kuota internet ini.

Bantuan ini, menurutnya, perdana menjangkau 35 juta pendidik & peserta didik. Padahal ada hampir 58 juta yang berhak menerima. Mestinya 58 juta penerima catu ini sudah diberikan sedari September.

“Walau ada kasus kendala teknis terkait verifikasi pengesahan yang masih ada, tetapi sepantasnya sudah bisa diselesaikan. Sebab sudah 1 bulan lebih waktu perbaikannya, ” pungkasnya.

Berita Terpaut

TULIS KOMENTAR ANDA!