CIMAHI – Data daripada Januari sampai September 2020 membuktikan angka ibu melahirkan di Kota Cimahi cukup tinggi, yakni mencapai 7. 669. Data itu apalagi bisa lebih tinggi lagi sebab baru laporan dari 13 Puskesmas se-Kota Cimahi, belum termasuk keterangan yang melahirkan di klinik swasta dan fasilitas kesehatan lainnya.

“Kalau digabung dengan data ibu melahirkan di klinik swasta & fasilitas kesehatan lainnya, pasti bertambah tinggi angkanya, ” terang Besar Bidang Bina Kesehatan Masyarakat, Dinkes Kota Cimahi, Dikke Suseno, Kamis (5/11/2020). (Baca serupa: Dua Kali Gagal Lelang, MPP Cimahi Dilanjutkan Tahun Depan)

Tingginya angka ibu melahirkan itu berpengaruh terhadap kepadatan penduduk di Kota Cimahi. Pokok mereka langsung terdata sebagai warga yang memiliki identitas administrasi kependudukan Cimahi.

Tersebut terbukti dari rilis Badan Tengah Statistik (BPS) Jawa Barat dengan menyebutkan jika Kota Cimahi ialah daerah dengan kepadatan tertinggi dalam Indonesia. Setiap kilometer perseginya daerah Kota Cimahi dihuni 15. 643 jiwa.

Baca Juga:

Berkaca dari hal tersebut, lanjut Dikke, pihaknya pantas memaksimalkan program Keluarga Berencana (KB) pada Pasangan Usia Subur (PUS). Terutama penggunaan KB jangka lama. Itu sebagai upaya untuk menekan tingginya angka kelahiran.

Wali Kota Cimahi, Ajay Muhammad Priatna mengakui jika padatnya penduduk Cimah juga disebabkan faktor daya tarik wilayah untuk ditempati. Sementara luas wilayah Cimahi dengan masuk kategori daerah perkotaan pas terbatas. (Baca juga: Selama Pandemi Covid-19 Limbah Medis di Cimahi Alami Kenaikan)

Pihaknya kerap melangsungkan pembatasan jumlah penduduk seperti berdiam yustisi usai lebaran agar tak ada warga pendatang dibawa ke Cimahi. “Ini kota kecil akan tetapi nyaman ditinggali, jadi orang bersetuju stay. Pastinya berimbas ke kepadatan penduduk, kebutuhan hunian, pangan, dan lapangan pekerjaan, ” tuturnya.