loading…

JAKARTA awut-awutan Pengamat Transportasi Djoko Setidjowarno mengatakan, persoalan overdimension overload (odol) tidak persoalan sederhana yang hanya terpaut pelanggaran kelebihan muatan yang berpengaruh kemacetan, kerusakan jalan, dan tidak efisiennya biaya logistik darat semasa ini.

“Persoalan odol dimulai dari titik loading atau mencantumkan barang, misalnya di pelabuhan ataupun area industri atau pusat pemasokan lainnya, ” ujarnya, Rabu (26/8/2020). (Baca juga: Pemkot Bogor: Relasi Erat Positif COVID-19 Jadi Pengutamaan Swab Test)
Hasil pengamatan di lapangan ditemukan berbagai kasus keamanan dan pungli yang betul besar serta menahun tanpa mampu diselesaikan baik oleh regulator maupun aparat keamanan. Persoalan tersebut menjelma salah satu penyebab utama tak efektifnya sistem logistik darat di Indonesia.

“Pengusaha penyediaan atau truk bisa berhemat, akan tetapi perawatan jalan menghabiskan dana yang tak sedikit baik bagi Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR melalui APBN maupun Badan Daya Jalan Tol (BUJT) melalui taksiran perawatan yang memberatkan ketika bayaran dan pengguna belum sampai di nilai ekonominya, ” ungkapnya.

Menurut Djoko, kerugian akibat truk melebihi muatan menyebabkan banyak kecelakaan yang merenggut nyawa bani adam dan kerugian material lainnya. Regulator dan aparat sangat mengetahui status tersebut, tapi tidak dapat mengamalkan apa-apa karena patut diduga termasuk oknum yang menikmati buruknya tadbir logistik darat di Indonesia. (Baca juga: Ini Tanda Bioskop Boleh Buka Lagi di Masa Pandemi Covid-19)

Sehingga, regulator dan abdi hanya fokus pada truk kelebihan muatan saja dan ini tidak menyelesaikan akar permasalahannya. Para pemilik dan awak truk lebih senang tidak odol karena kerugian kebobrokan truknya pun makin kecil. Tetapi, kalau tidak melebihi muatan, beban angkut tidak tertutupi.

“Bereskan akar masalah truk meninggalkan muatan. Kir tak taat aturan dan hapuskan mafia bongkar memasukkan yang memberatkan pengusaha dan sopir truk, ” kata Djoko.

(jon)