JAKARTA awut-awutan Staf Khusus mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, Andreu Pribadi Misanta meminta kepada Sakti Wahyu Trenggono untuk selalu peduli dengan nelayan. Hal itu disampaikan Andreu usai diperiksa oleh penyidik KPK pada hari ini.

Andreu sendiri telah ditetapkan tersangka bersama Edhy Prabowo dan lima tersangka lainnya dalam kasus uang sogok terkait perizinan tambak, usaha, dan atau pengelolaan perikanan atau produk perairan sejenis lainnya tahun 2020 alias suap ekspor benur lobster. (Baca serupa: Edhy Prabowo Ucapkan Selamat ke Sakti Wahyu Trenggono)

“Untuk menteri mutakhir KKP pengganti Pak Edhy Prabowo, tujuan kita adalah untuk nelayan dan intinya kita bekerja buat nelayan, memajukan kelautan dan perikanan Indonesia, ” ujar Andreu pada wartawan di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (23/12/2020).

Terpaut pemeriksaannya hari ini, Andreu mengaku digali keterangannya terkait kasus uang sogok benur tersebut. “Saya cuma lanjutan pemeriksaan saksi terkait dugaan gratifikasi yang ada di KKP, harap doanya teman-teman, mungkin di sungguh masih ada teman-teman yang langsung mendoakan saya dan saya akan tetap mengikut prosesnya dan mudah-mudahan menjadi bagian perjalanan hidup aku, ” tuturnya.

Baca Selalu:

Diketahui KPK telah menetapkan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo jadi tersangka penerima suap terkait perizinan tambak, usaha, dan atau tata perikanan atau komoditas perairan sejenis lainnya tahun 2020 alias uang sogok ekspor benur lobster.

Selain Edhy, KPK juga sudah menetapkan enam tersangka lainnya di kasus ini. Mereka adalah Stafsus Menteri KKP, Safri; Stafsus Menteri KKP, Andreau Pribadi Misata (APM). Kemudian, Pengurus PT ACK, Siswadi (SWD); Staf Istri Menteri KKP, Ainul Faqih (AF); dan Amiril Mukminin (AM). Sementara satu simpulan pemberi suap yakni, Direktur PT DPP, Suharjito (SJT).

Edhy bersama Safri, Andreau Pribadi Misanta, Siswadi, Ainul Faqih, & Amril Mukminin diduga menerima suap sebesar Rp10, 2 miliar serta USD100 ribu dari Suharjito. Uang sogok tersebut diberikan agar Edhy memberikan izin kepada PT Dua Putra Perkasa Pratama untuk menerima persetujuan sebagai eksportir benur.

Sebagian kekayaan suap tersebut digunakan oleh Edhy dan istrinya Iis Rosyati Buah hati untuk belanja barang mewah dalam Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat pada 21-23 November 2020. Sekitar Rp750 juta digunakan untuk membeli tanda tangan Rolex, tas Tumi serta Louis Vuitton serta baju Old Navy.

Atas perbuatannya, para penerima suap disangkakan mengenai Pasal 12 ayat (1) tulisan a atau b atau Pasal 11 Undang-undang Nomor 31 Tarikh 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor Juncto Kausa 55 ayat (1) ke-1 KUHP, Juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP. (Baca juga: Resmi Jadi Menteri KKP, Sakti Wahyu Trenggono Bakal Pertimbangan Kebijakan Edhy Prabowo)

Sedangkan sebagai sponsor suap, SJT disangkakan melanggar Kausa 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UNDANG-UNDANG Nomor 20 Tahun 2001 mengenai Pemberantasan Tipikor Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, Juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.