WASHINGTON – Salah satu identitas yang dibangun Presiden Donald Trump akan membalikkan semua apa yang dikatakan oleh para pakar. Tersebut terbukti ketika dia menjadi pemimpin pada pemilu 2016. Keyakinan itu tetap dipertahankan Trump pada pemilu 2020.

Selama 4 tahun berkuasa, Trump tidak mempedulikan berbagai pendapat pakar dari rumor perubahan iklim, kebijakan luar negeri hingga penanganan pandemi virus corona. Trump juga tidak pernah mendengarkan pakar jajak pendapat, politikus lantaran partainya sendiri Republik atau pula tokoh senior.

Trump menerapkan strategi berbasis pendukungnya buat melawan kelompok yang disebut dengan liberal. Dia memiliki pakar kesehatan publik sendiri dan membangun pengesahan sendiri. Dia pun memiliki asas pendukung yang kuat dan bakal hadir berkampanye dan memilihnya.

“Gelombang merah (Partai Republik) yang besar akan muncul, ” kata Trump saat berkampanye pada 31 Oktober lalu dalam Pennsylvania. Itu sebagai prediksinya yang melawan analisis para para spesialis yang menyatakan “gelombang biru” ataupun gelombang Demokrat akan menyapu pemilu 2020.

Baca Serupa:

Faktanya Trump kalah seperti proyeksi mayoritas jalan di Amerika Serikat (AS) di dalam Sabtu pagi waktu setempat. Joe Biden dari Partai Demokrat dinyatakan unggul dalam perolehan suara elektoral. (Baca juga: Gugat Buatan Pilpres, Partai Republik Cari Dana Rp852 Miliar)

Meskipun Trump sendiri kalah, prediksinya tentang gelombang merah itu mempunyai dampak sangat nyata yakni para-para pendukungnya yang besar dan taat. Trump berhasil menambah 7, 3 juta suara lebih besar dipadankan apa yang didapatkannya pada 2016. Dia mampu menolong banyak hasil anggota Senat sehingga bisa melindungi kekuatannya di parlemen. Partai Republik juga mendapatkan lima kursi bunga di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang dikontrol Demokrat.

Legasi Trump untuk memperkuat Partai Republik di parlemen menjelma harapan yang sirna bagi Demokrat yang ingin mengikis habis Trumpisme. Jika Biden dinyatakan resmi dilantik sebagai presiden AS, Republik langgeng menguasai Senat, maka presiden hangat harus berjuang keras mengajukan legislasi dan memenangkan dukungan dari hakim di Mahkamah Agung yang dikuasai kubu konservatif. Brand politik populisme yang melekat pada Trump pun akan terus berlanjut dan tumbuh.

“Pesan Trump tentang kebebasan ekonomi selama pandemi mendapatkan dukungan dari para pemilih, ” introduksi Joe Gruters, Ketua Partai Republik Florida, dilansir Reuters. “Pemilih memutuskan presiden AS karena pesan positifnya untuk masa depan dan upaya mengutamakan kepentingan rakyat AS bertambah dahulu, ” paparnya.