JAKARTA Palm Oil Free (POF) ataupun Tanpa Mengandung Patra Sawit merupakan sebutan yang dicantumkan pada sebuah produk baik makanan maupun obat obatan, kini produk dengan Label POF sudah banyak beredar di Nusantara terutama untuk produk impor.

Pencantuman label POF pada sebuah produk makanan dan obat obatan bisa mengancam pasar sawit serta termasuk ke dalam kampanye hitam untuk melawan produk sawit. Pengantara Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar mengatakan kebanyakan produk dengan sebutan POF memang produk impor pertama dari Eropa.

Tempat pun tidak mengetahui secara detail apakah pencantuman label tersebut adalah inisiatif Uni Eropa atau memang dibanding pihak lain. Yang jelas pencantuman POF ini bisa merusak keberlangsungan pasar sawit terutama untuk Nusantara karena Indonesia memang dikenal sebagai produsen sawit terbesar di dunia.

Baca Juga:

“Jika pencantuman label POF ini diteruskan maka akan berpengaruh negatif pada masa depan sawit Indonesia dan kebijakan tersebut tidak boleh dibiarkan, ” katanya dalam webinar di Jakarta, Rabu (16/9/2020). (Baca juga: Dekati Perusahaan Amerika, Menteri Erick Ingin Tekan Impor LPG )

Terkait dengan pencantuman label POF pada produk sasaran dan obat obatan, Kementerian Luar Negeri akan terus memantau perkembangannya dan berkoordinasi dengan Malaysia. Bila dinilai sudah membahayakan maka Nusantara akan mengambil sikap dan mendaftarkan surat protes ke WTO.

“Pemerintah tidak akan status diam dan terus memantau perkembangan tentang sawit Indonesia dan segala bentuk kampanye hitam yang dibuat, ” ujar dia.

Menurutnya banyak pihak yang iri dengan sawit Indonesia sehingga mencari jalan agar sawit ditolak karena sawit Indonesia memang kualitasnya baik & banyak manfaatnya. (Baca juga: WTO Putuskan AS Bersalah dalam Perang Dagang, Washington Ngamuk )

Pemimpin Umum Dewan Minyak Sawit Nusantara (DMSI) Derom Bangun menambahkan, sistem dunia baik WHO maupun WTO seharusnya bersikap lebih fair & tidak berpihak kepada satu negara.